paranormalindonesiaonline.com Jasa Konsultasi Paranormal ramalan Feng Shui GRATIS, pelet jarak jauh. Hubungi Bpk.Pamera, HP: 085797189999 WhatsApp: 081910228999 PIN BBM paranormalindonesia : 265728CB

Kisah Teladan - Ust Yusuf Mansur : Jangan Beramal Sendirian

[KangSambas]“Ustadz, beneran tuh bisa ngamalin amalan harian dengan istiqomah tanpa kurang sedikitpun?” tanya seseorang kepada Ustadz Yusuf Mansur dalam sebuah ta’lim di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Internasional, Tangerang.

Ustadz Yusuf menjawab, “Ya, Alhamdulillah, tahadduts binni’mah, saya sampe hari ini masih bisa istiqomahin shalat on time berjama’ah plus rawaatib-nya, tahajjud, dhuha bahkan 12 raka’at, baca qur’an, baca amalan ini dan itu. Sedekah saya bahkan setiap saat malah.”

“Kok bisa Tadz, gimana tuh caranya, Ustadz kan sibuk?” tanya seorang yang lain penasaran.

“Ya bisa lah, asal tahu caranya. Gimana caranya?
Makanya beramal tuh dengan ilmu. Saya bisa istiqomah dalam beribadah kepada Allah karena saya kan da’i, kerjaan saya ngajak saudara dan jama’ah yang lain untuk melakukan ibadah ini dan itu. Sekian juta orang setiap hari saya ajak lewat taushiyah langsung di pesantren ini, lewat CD dan kaset, televisi, radio, nada sambung pribadi, nada dering, tulisan-tulisan saya di buku, artikel, website, twitter dan lain sebagainya. Dari mereka lantas ada yang istiqomah bangun malemnya, ada yang nggak mau ketinggalan dhuhanya, ada yang terbiasa dengan shalat on time berjama’ahny bahkan nyesel nggak karuan kalau ada satu waktu telat berjama’ah, ada yang menjadikan sedekah sebagai habit, dan ada yang menjadikan amalan ini dan itu sebagai pakean sehari-hari. Masa sih saya nggak kebagian pahalanya dari mereka?”

“O, begitu ya Ustadz,’’ jama’ah manggut-manggut pertanda mengerti.

Lalu Ustadz melanjutkan jawabannya
“Kalau kita beramal lalu amal tersebut hanyalah menjadi amalan kita saja, maka sayang banget ya. Padahal kalo kita mau ngajak orang melakukan hal yang sama, bukan main berlimpahnya kita punya ganjaran karena kita akan kebagian pahala juga dari orang yang kita ajak tersebut.

Berikut kata Rasulullah SAW dalam sebuah kesempatan:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه

Siapa saja yang menunjukkan satu perbuatan baik maka baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya (atas petunjuknya)

(HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Bayhaqi & Ibnu Hibban dari Abi Mas’ud Al Anshori).’’
Pembaca Cerdas…..

Para ulama berpendapat bahwa boleh amal kebajikan diperlihatkan dengan syarat dilakukan sebagai contoh dan teladan bagi murid, atau orang lain yang memang perlu mengetahuinya. Ibadah-ibadah wajib sendiri memang harus diperlihatkan, seperti shalat wajib, zakat wajib, jihad, haji, dan sebagainya. Karena jika tidak demikian, maka akan hilanglah syiar-syiar Islam.

Namun kita harus tetap menjaga hati agar semuanya dilakukan atas dasar ikhlas karena Allah SWT, sesuai dengan perintah-Nya dan sunnah Rasul-Nya. Ibadah yang utama dilakukan tanpa dilihat orang lain adalah ibadah-ibadah sunnah.

Namun tidak berarti tidak boleh memperlihatkan-nya kepada orang lain dengan tujuan mengajar atau menganjurkan mereka untuk ikut rajin melaksanakan ibadah sunnah.

Dalam hal ini, penting juga diperhatikan Kemampuan dalam membentengi diri dari segala pujian atau celaan dari orang lain. Jika merasa lemah maka sebaiknya tidak diperlihatkan, karena dikhawatirkan ibadah yang dilakukannya menjadi sia-sia. Tetapi jika merasa mampu menghindari riya, tahan terhadap celaan, maka baginya lebih utama untuk memperlihatkan amalan, karena hal itu termasuk mengajak kepada kebajikan.

Dan, mengajak kebaikan adalah kebaikan. Apalagi kebaikan itu kemudian diikuti oleh orang banyak, maka akan menjadi amal jariyah yang pahalanya selalu mengalir, sehingga menjadi kebaikan di atas kebaikan. Rasulullah SAW berwasiat:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barang siapa yang memulai suatu perbuatan baik, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang memulai perbuatan buruk maka baginya dosanya dan dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi dari dosa mereka sedikit pun.”

(HR Ahmad, Muslim, Ibnu Mâjah, Baihaqi, dan hadis dengan lafaz ini adalah riwayat Ahmad)
Para ulama memberikan teladan yang baik dengan memperlihatkan atau mengabarkan ibadah yang mereka lakukan untuk diikuti oleh orang lain, terutama sebagai pelajaran kepada anak-anak. Seperti yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar bin ‘Iyâsy kepada putranya: “Wahai, Anakku, janganlah kau melakukan maksiat di kamar ini, sesungguhnya aku telah mengkhatamkan Al-Quran di kamar ini sebanyak dua belas ribu kali.”

Bagi mereka yang dekat dengan Rabb-nya, yang memiliki keikhlasan tingkat tinggi, tidak akan terpengaruh ada atau tidak adanya makhluk yang melihat mereka. Tidak juga terpengaruh oleh pujian atau celaan, karena keagungan Dzat yang mereka sembah terlalu besar untuk diusik oleh makhluk yang kerdil dan hina.
Pembaca Cerdas…

Intinya bahwa seseorang diperintah untuk berdakwah dan menyeru orang menuju jalan Allah yang lurus. Selain dengan ungkapan, dakwah juga harus disertai dengan qudwah (teladan yang baik). Karena orang terkadang tidak percaya terhadap Islam karena boleh jadi melihat juru dakwahnya yang tidak mencerminkan akhlak Islami dan melakukan apa yang diajarkannya.

Dalam proses berdakwah ini tentulah akan ada pasang-surut niat. Maka hendaknya kita selalu men-tajdid (memperbaharui) niat. Ketika timbul niat yang tidak baik maka bersegeralah mengucap tahlil dan meyakinkan diri bahwa segala apa yang kita lakukan tidak untuk siap-siapa tapi untuk Allah semata. Rasulullah berwasiat:
جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ! قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟ قَالَ : أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Perbaharuilah niat kalian.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana kami memperbaharui niat kami wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “perbanyaklah mengucap, ‘Lâ Ilâha illallâh’.”

(HR Ahmad)

Kita juga bisa menyiasati agar amal tidak terjangkit riya, dengan melihat kondisi. Jika ada perasaan ujub dan riya, tandanya udah heng tuh…, ada yang nggak beres. Maka berhentilah sejenak, tarik nafas dalam dalam huuuuuuuuf, lepaaas haaaaaaa…., refresh dulu, defrag dulu, cabut batre dulu lalu pasang lagi (kayak BB aja ya, he he he….) untuk mengintrospeksi diri kemudian melanjutkan amal kembali.
Pembaca Cerdas…

Pada tulisan ini saya mengajarkan diri saya dan para pembaca semua bahwa banyak cara meraih pahala dan ridho Allah salah satunya lewat jalan dakwah, ngajak pada kebaikan baik dengan hikmah (Al Qur’an dan As sunnah), mau’izhoh hasanah (taushiyah, nasehat, ajakan yang sederhana dan mengena) maupun diskusi,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(An Nahl 125)
Hari gini gak mau berdakwah?

Waaah gak gaul!

Subhanallah Allah hadirkan kemudahan demi kemudahan dalam hidup ini termasuk dalam berkomunikasi dengan keluarga, saudara dan kawan-kawan yang kita kenal maupun tidak.

Kita sudah memasuki era kejayaan ICT (information and communication technologies), era kreativitas, telekomunikasi canggih, era internet murah untuk rakyat, era touch screen, era digital, era social network.

Subhanallah…. Dunia di genggaman tangan, mengatur bisnis bisa dari rumah, bisa juga di tempat berlibur bersama keluarga, berkeluh kesah, narsis narsisan, mencari kawan lama, minta do’a bahkan ini yang luar biasa kita bisa, BERDAKWAH!
Ya, berdakwah bukan hanya intruksi Allah SWT bagi para da’i, ulama, asaatidz, habaaib, guru ngaji, alumni pesantren, para sarjana agama dan siapa saja yang punya latar belakang pendidikan agama, tapi berdakwah adalah tugas mulia setiap individu yang beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Dengan dakwah kemudian Allah mencap kita dengan “ummat terbaik”.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ….

“kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….”

(Aali Imraan 110)
Berdakwah tidak mesti di atas mimbar, di atas panggung, tidak hanya di masjid, musholla, majelis ta’lim, pesantren, tidak juga selalu dengan biaya besar dengan menyediakan makan, tempat yang bagus, sound system yang keren, kepanitiaan yang banyak. Tidak juga harus alumni pesantren, alumni fakultas dakwah, alumni Timur Tengah, tidak mesti juga sampai sampai mahir tentang retorika dan metodologi dakwah baru berdakwah.

Untuk berdakwah sekarang hanya butuh niat dan kemauan (mau apa enggak) dan keteladanan. Selanjutnya sabar, istiqomah dan maintenance.

Bayangkan kalau saya atau Anda wahai pembaca cerdas… punya nomor contact di hp ada 3000 orang, punya contact di BB 2000 person, punya teman di facebook lebih dari 10.000 orang, punya follower di twitter 1000.000 orang, lalu ngajak mereka shalat dhuha dan ada 10% saja yang kemudian membaca, teringatkan, termotivasi, terinspirasi lalu shalat dhuha… subhanallah… dahsyat bukan! Cerdas kan?

Akan Lebih CERDAS lagi, FASILITASIN PARA DA’I, ULAMA DAN GURU-GURU NGAJI…

Sumber / Penulis : yusufmansur.com

Kang Sambas


@



0 komentar:

Poskan Komentar - Kembali ke Konten

Kisah Teladan - Ust Yusuf Mansur : Jangan Beramal Sendirian