Saya sebagai polisi selalu menangani masalah kriminalitas masyarakat. Tetapi jika menyangkut dengan masalah mistis dan sebagainya, itu betul-betul sudah bukan bagian dari tugas kami. Dikarenakan dari awal saya sudah ditugaskan untuk mencari tahu apakah ada tindak pidana di kasus kematian seorang perempuan, saya akhirnya harus melibatkan diri di kasus misterius ini. Dan ternyata kisah ini akan menjadi salah satu pengalaman yang paling seram dan berarti dalam karier kepolisian saya.



Dari luar ruangan, saya melihat Illiana dan Ibrom berdiri di sudut dengan wajah tegang. Saya langsung masuk ke dalam ruangan.


Ibrom langsung teriak “AWAS!”


Terlambat. Tiba-tiba saya merasa sekeliling saya berputar-putar. Saya bingung melangkah karena lantai tempat saya berpijak berputar-putar seakan saya berdiri di atas komidi putar. Ruangan serasa berputar.


Ada apa ini?


Mata saya mulai berkunang-kunang. Semakin lama semakin bintik-bintik itu memenuhi mata saya. Telinga saya berdenging.


Saya menyadari, sebentar lagi saya akan pingsan. Tetapi apa yang terjadi?


Ibrom melihat berlari ke arah saya, dia kemudian menarik tangan saya dan menyeret saya seolah-olah supaya saya tidak berdiri di situ, di depan pintu. Tetapi saya tidak mampu melangkah dengan benar karena pusing. Anehnya, begitu saya menjauh dari pintu masuk, tiba-tiba saya berangsur-angsur pulih kembali. Penasaran, saya menoleh ke arah pintu..


Ada yang berdiri di samping pintu


Setelah saya melihat beberapa saat, jantung saya sepertinya berhenti berdetak. Ternyata itu patung. Patung yang sama dengan di foto Illiana. Saya bisa melihatnya lebih jelas. Seorang pesinden dengan wajah tersenyum. Ukurannya sama dengan manusia dewasa. Patung ini terlihat seperti patung tua, dengan beberapa warna terkelupas sana sini. Sebagian cat warna sudah hilang, dan kami bisa melihat serat kayu di situ.


Ini pertama kalinya saya melihat patung itu. Sebelumnya hanya melihat di foto yang diberikan Illiana waktu itu. Jujur, pada saat melihat foto saja, saya sudah merasa sangat tidak enak. Patung di foto itu menatap ke depan, ke arah kamera, ke arah orang yang melihat foto. Dan tatapannya menusuk saya.


Dan malam ini, saya, melihat patung itu secara langsung!


 


Saya menatap Ibrom, apa yang harus kita lakukan? Dia melihat saya sekilas kemudian melihat ke Illiana. Tangan Illiana memegang korek api. Saya mulai mengerti apa yang ingin dilakukan mereka…


Illiana dari tadi mencoba mengorek keluar api, tetapi gagal terus. Saya mengambil korek dari tangannya, mencoba menyalakan api, sambil melihat patung itu. Sekarang Dia masih diam berdiri di situ.


Setelah beberapa kali menggesek korek dengan kotak, akhirnya api mulai menyala, Ibrom buru-buru menggulung kertas koran yang dia pegang, saya mencoba menyalakan api ke kertas koran.


Dalam kondisi normal, jika orang melihat apa yang sedang kami lakukan, mereka pasti menduga kami gila. Karena kami sedang mencoba membakar sesuatu di dalam gedung. Tetapi hantu patung itu membuat kami tidak bisa berpikir jernih. Dengan tangan bergetar, saya membakar kertas koran. Setelah koran mulai menyala, saya dan Ibrom mengendap-endap mendekati patung itu.


Tatapan patung itu sedang mengarah ke kami. Saya tidak tahu patung itu hidup atau tidak. Seiring satu langkah demi satu langkah, kepala saya mulai merasa berat lagi, tiba-tiba saya merasa terhuyung-huyung. Apa yang terjadi? Ibrom sepertinya juga mulai merasakan hal yang sama pada saya. Tetapi dia memaksa terus maju dan kemudian mendekatkan gulungan koran berapi ke patung. Api mulai membakar patung itu. Kami buru-buru berlari menjauh.


Saya mengira patung itu akan tiba-tiba bergerak dan menyerang kami. Tetapi ternyata tidak. Api mulai melahap patung mengerikan itu. Tidak ada apa-apa yang terjadi.


Mungkin itu memang hanya patung biasa? Tetapi kalau begitu siapa yang memindahkannya ke situ?


Ibrom menjelaskan setelah saya keluar dari kamar, dia dan Illiana hanya menonton televisi sambil berbincang sebentar. Mereka berdua fokus di televisi, sampai tiba-tiba televisi berubah statis, dan tiba-tiba saja patung itu sudah berdiri di posisi sana. Tidak bergerak.


Badan patung hampir menghitam semuanya. Api mulai padam. Aneh, apakah apinya padam sendiri?


Ibrom bersumpah, dia tidak melihat siapapun dari tadi. Dia duduk di sebelah ranjang Illiana, dan pasti akan sadar kalau memang ada yang meletakkan patung itu, lagipula…


TIBA-TIBA PATUNG ITU BERGERAK!


Saya mencoba melihat lebih seksama tetapi sepertinya


PATUNG ITU BERGERAK KE ARAH KAMI!


“Aaah!” saya tidak bisa berkata-kata, dan hanya berteriak. Illiana juga menjerit. Ibrom segera menoleh karena dari tadi dia berdiri membelakangi patung. Reflek saya langsung maju dan menendang patung itu. Patung itu untuk beberapa saat mundur. Dengan masih ekspresi senyum, dia kembali bergerak maju.


Kaki dan tangannya bergerak seperti manusia. Hanya saja, wajahnya masih kaku tidak berubah. Masih tetap dengan senyuman. Beberapa bagian badannya sudah menghitam karena kami membakarnya. Tetapi kelihatannya patung itu tidak terlalu menggubris jika kami telah membakarnya.


Saya bersiap-siap untuk menendangnya jika dia mendekat lagi, Ibrom mencoba membaca doa-doa yang dia ketahui. Tetapi saya bisa melihat sepertinya tidak mempan dengan makhluk itu. Ketika saya mencoba menendang dia terlebih dahulu menepis saya sehingga saya jatuh, dan dia juga mendorong Ibrom dengan keras hingga terjerembab.


Kemudian maju mencekik Illiana.


Illiana tidak tidak bisa berteriak, mencoba memisahkan tangan patung, tetapi tidak berdaya.


Ibrom segera memisahkannya. Saya mencoba menendang patung itu lagi. Patung itu terjatuh, tetapi masih tetap mencekik Illiana, yang ikut terjatuh juga. Saya menendang kepalanya sekeras-kerasnya. Kepala mulai copot dan berguling-guling di lantai. Tetapi Illiana tetap tersekat. Dia sudah hampir hilang kesadaran.


Gawat, patung itu tidak mau melepaskan tangannya.


Saya mulai berpikir mencoba mematahkan lengan monster itu. “Illiana bertahanlah!”


Saya dengan keras menghantam lengan patung, dan sekali pukulan hanya membuatnya retak. Akhirnya saya mencoba memukul sekali lagi. Akhirnya patah juga!


Sisa satu lengan. Saya kali ini dengan tenaga yang lebih kuat menghantam tangannya. Kali ini tangannya langsung patah. Ibrom langsung menendang patung tanpa kepala itu mundur. Tangan yang memegang di leher Illiana, segera saya singkirkan. Untunglah dia masih sadar. Dia terbatuk-batuk sambil memegang lehernya.


Terlihat jejak cekikan sangat jelas.


Patung itu kembali berdiri. Dengan dua lengannya yang patah dia kembali maju ke arah kami. Saya mengambil kursi lipat dan menghantam ke badan patung itu sekeras-kerasnya. Patung itu tumbang. Kali ini Ibrom dengan segera langsung menginjak kaki patung. Saya juga dengan keras-keras menghantam kakinya supaya patah.


Ibrom kemudian segera mengeluarkan gulungan koran lain dari tasnya. Saya merogoh kocek mengeluarkan korek api tadi, menyalakannya dan kami sekali lagi membakar patung itu. Patung itu kembali terbakar. Tetapi saya lihat patung itu sudah tidak bergerak.


Setelah itu baru kami bisa duduk tenang…


 


Pagi harinya, setelah melihat kondisi Illiana ditambah situasi semalam, sudah pasti dia tidak bisa ikut. Jadi saya dan Ibrom memutuskan untuk naik.


Tetapi saya memastikan perawat harus terus berada di sampingnya. Karena Illiana menjadi traumatis setelah diserang semalam. Walaupun patung itu berdasarkan catatan mereka, hanya muncul sore atau malam, kita tidak mau bermain-main dengan resiko.


Pagi itu juga kami berangkat ke gunung. Tetapi kami harus mengira-ngira lokasinya kuburan itu. Karena mereka bertiga menggunakan jalan pintas yang ada di pertengahan gunung, kami memutuskan untuk mengikuti rute mereka. Kami naik dulu ke puncak, lalu dari atas baru mulai mencari jalan pintas yang mereka lewat.


Setelah sekitar setengah jam, akhirnya kami menemukan ada sebuah jalan kecil di samping jalan utama. Mungkinkah itu jalurnya?


Kami berjalan ke situ, dan memperhatikan sekitar untuk melihat apakah ada gundukan tanah. Sebetulnya ada satu hal yang membuat saya tidak tenang. Tetapi saya tidak yakin.


Kami berjalan hampir satu jam. Sebentar lagi kami sepertinya sudah akan sampai kaki gunung. Ibrom merasa, kita tidak lama lagi akan menemukan kuburannya. Dan benar saja. Saya melihat ada gundukan tanah. Dan di satu sisi terdapat nisan dari kayu.


Kayu nisan sudah terlihat lapuk. Walau begitu tulisan aksara kuno masih bisa dilihat. Saya menoleh ke Ibrom. Ibrom sedang mencoba membandingkan buku aksara Jawa Kuno untuk mencocokkan maknanya. Kalau saya melihat dari sudut orang awam, ini agak berbeda dengan yang ditemukan di kertas. Karena ini lebih pendek.


“Ini beda dengan kertas yang kamu temukan kemarin,” jawab Ibrom.


Saya mengangguk.


“Ini.. ini bukan kutukan. Ini tertulis seperti pesan” jelas Ibrom. “Disitu maknanya kurang lebih ‘Sang anak dari ibu yang meninggal tragis akan membalaskannya.”


Bukan nama yang tertera. Sesuai dugaan saya. Ada yang tidak beres. Saya mengusulkan tetap melakukan rencana kami di awal, “Ayo kita lakukan!”


“Fan, kita beneran mau melakukannya?”


“Ya!” jawab saya tegas. Kami berdua mengeluarkan sekop, dan mulai menggali kuburan itu kembali.


Tadi pagi, saya yang menggagas ide untuk membawa sekop dan menggali makamnya. Ibrom sangat-sangat menentangnya. Tiga perempuan yang sekedar mengusik makam saja akibatnya satu mati, satu meninggal. Dan Kita malah ingin menantangnya dan menggali kuburnya. Dia bilang saya gila.


Tetapi saya meyakinkan dia, kemungkinan besar kita justru akan menemukan jawabannya setelah menggali makam ini.


 


Butuh waktu sekitar satu jam menggali cukup dalam. Ibrom dan saya melihat lubang kosong. Di dalamnya tidak ada apa-apa.  Tidak ada tulang atau apapun. Semuanya kosong.


“Dugaan kamu benar. Makam ini… kosong,” kata Ibrom.


“Iya. Dugaan saya benar berarti. Pertama, jika ini adalah makam tua dan tidak ada yang merawatnya, seharusnya gundukan tanah ini sudah pasti rata dengan tanah. Tetapi mengapa masih ada gundukan. Tetapi kalau dibilang ini ada yang merawat, tidak terlihat terawat, papannya lapuk, seolah-olah ingin menegaskan ke orang ini kuburan kuno.


Kedua, walaupun ini jalan pintas. Jalan ini, saya rasa, sedikit banyak pasti ramai dilewati orang. Jadi seharusnya banyak orang yang tahu keberadaan makam ini. Tetapi lokasinya yang di tengah-tengah jalan, dan masih seperti ini saya mulai merasa ini sepertinya bukan makam tua, tetapi ini hanya buatan baru-baru ini. Seseorang, memalsukannya.”


“Dan ternyata dugaan kamu benar. Ini bukan makam. Seseorang membuatnya. Tetapi siapa yang melakukannya? Untuk apa? Sampai sebegitu niatnya membuat papan lapuk dan menulis aksara Jawa Kuno,” tanya Ibrom lalu tiba-tiba berkata, “Jangan-jangan…. Jangan-jangan pembuat makam ini… salah satu dari tiga perempuan itu?”


“Saya juga sebetulnya ada dugaan seperti itu. Dan kamu tahu? Sriyani kuliah Sastra Jawa…”


“Oh ya? Kenapa baru kamu bilang sekarang?”


“Saya pikir informasi itu tidak penting dan tidak nyambung dengan kasus ini. Tetapi sekarang melihat ini dan mencoba menyusun kembali, sepertinya berkaitan. Lihat, Sriyani pucat pasi ketika melihat papan nisan. Mungkin. Ini mungkin yah… Dia takut bukan karena mengganggu makan, tetapi karena dia tahu pesan nisan itu ditujukan untuknya. Dia tahu ada orang yang mengincarnya.


Untuk supaya Sriyani melihat makam ini, pelaku harus mengantarnya ke sini, kemudian membuat makam ini…”


“Apakah tidak terlalu berlebihan?”


“Brom, walau ini sudah menyangkut hantu dan mistis, bukan berarti nalar dan logika tidak kita pakai. Coba lihat, makam ini palsu. Seseorang membuat pesan mengancam. Lalu tiba-tiba ada foto penampakan. Lalu tiba-tiba Sriyani mati dan Elsa gila. Kamu tahu, siapa yang paling tidak apa-apa di sini?”


“Kamu pasti gila… Tidak mungkin…,” Ibrom menggeleng-geleng kepalanya.


“Entahlah. Asas praduga tidak bersalah tetap berlaku. Hanya saja kita perlu interogasi dia lebih lanjut. Lagipula tugas kita di sini selesai. Dan,” saya tiba-tiba terpikir satu hal dan berhenti, “Gawat!”


Ibrom terperanjat, melihat saya tiba-tiba berlari menuruni rumah sakit. Dia ikut berlari. “Ada apa?”


“Elsa! Elsa bisa jadi dalam bahaya!” teriak saya sambil berlari.


“Kenapa?” teriak Ibrom lagi.


“Bisa jadi kejadian semalam itu hanya pengalihan supaya hari ini tidak ada kita!” teriak saya jengkel. Seharusnya paranormal juga perlu belajar deduksi. Kan mereka kadang juga mengurus begituan, pikir saya.


 


Saya berlari masuk ke rumah sakit, tetapi terlambat. Elsa sudah meninggal. Kata dokter, Elsa tiba-tiba beringas kemudian menghantam kepalanya ke dinding terus menerus. Perawat tidak berhasil mencegahnya. Sekarang jenazahnya sedang di ruang Saya dan Ibrom saling menatap, kemudian kami langsung berjalan ke kamar Illiana.


“Irfan, Ibrom, Bagaimana hasilnya?” Illiana menoleh ke kami ketika kami berjalan masuk.


“Illiana, Elsa sudah meninggal..” jawab saya langsung.


“Iya, tadi saya sudah mendengarnya dari perawat,” ujarnya dengan mata sayu.


“Kamu yang melakukannya bukan?” tanya saya langsung ke sasaran.


“Ya?” saya bisa melihat dia terperanjat tidak menyadari saya tiba-tiba berbicara begitu. “Apa maksudnya?”


“Kamu yang membunuh Elsa bukan? Kamu yang membunuh Sriyani bukan?”


“Pak Irfan, mohon jangan bercanda dengan saya, mereka adalah teman saya. Jangan sembarangan fitnah!” suara Illiana meninggi. Menahan amarah. Atau berusaha menyembunyikan ketakutannya?


Kamu tahu Illiana, saya adalah polisi, tugas saya adalah menangkap pelaku jika ada tindakan pidana. Tetapi jika kasus ini sudah menyangkut masalah klenik dan hantu, jujur polisi tidak bisa menanganinya. Tetapi teman saya Ibrom memiliki kemampuan untuk membantunya. Dan kami sudah tahu sesungguhnya.”


Ibrom menatap saya kebingungan, tetapi saya mengabaikannya. Ini adalah upaya untuk mengorek informasi.


“Ketika kami mencari petunjuk di makam, semuanya terlihat jelas. Kamulah yang membuat makam itu. Biar saya cerita ulang apa yang kamu lakukan. Kalian bertiga ketika setelah sampai puncak gunung dan bermaksud pulang, kalian melalui jalan pintas. Di cerita sebelumnya, kamu berbohong bahwa Elsa yang mengetahui jalan pintas. Faktanya adalah kamu yang mengarahkan mereka ke situ.


Ketika sampai di makam palsu itu, kamu membiarkan Sriyani melihat papan nisan, bertulisan ancaman. Sriyani tahu pesannya, tetapi Elsa tidak. Itu sebabnya Sriyani dari situ mulai tidak tenang. Dan foto, juga kamulah yang mengambil foto. Sebagai ancaman lanjutan untuk mereka berdua. Dari awal turun gunung itu, semuanya sudah diorkestra dari kamu.


Target pertama adalah Sriyani, dan saya yakin entah dengan cara apa kamu memunculkan patung laknat itu untuk membunuh Sriyani. Dan berikutnya kamu mulai mencoba membunuh Elsa di rumah sakit tua untuk menciptakan seolah-olah mati karena gangguan makhluk halus. Tetapi gagal, karena ada orang lain yang datang. Kertas berisi jawa kuno itu hanya pengalihan.


Saya rasa untuk melakukan pembunuhan itu, perlu waktu. Itu sebabnya kamu pun datang ke rumah sakit. Selain menghilangkan kecurigaan, juga memungkinkan kamu memantau situasi rumah sakit. Sayangnya kamu selalu tidak berkesempatan untuk membunuh Elsa.”


Saya berhenti dan melihat reaksi Illiana. Dia hanya menatap saya dengan tajam. Seolah-olah saya adalah target berikutnya. Tapi saya tidak mempedulikannya.


“Terakhir ketika kami mau ke gunung mencari makam itu, malamnya malah diserang patung misterius itu lagi. Saya rasa serangan itu ada dua alasan. Pertama sebagai ancaman untuk kami supaya jangan coba-coba mengganggu makam. Kedua sebagai alasan supaya kamu tetap di rumah sakit lagi. Dengan begitu kamu bisa membunuh Elsa.”


“Cerita hebat Pak Polisi. Tetapi bukti apa yang kamu punya? Fitnah kamu itu terlalu keji!” cetus Illiana dengan suara bergetar.


“Illiana, jujur saja, saya sebetulnya sudah tahu itu adalah perbuatan kamu. Tetapi kami sudah meminta salah satu perawat di rumah sakit untuk menjaga kamu. Dalam artian, mengawasi kamu secara diam-diam. Kamu tidak tahu bukan? Saya sebelum ke sini, sudah memastikan dengan perawatnya. Kamu memang sempat berdiri di luar pintu komat-kamit sesuatu. Dan sesaat setelah itu, Elsa kembali menjadi gila dan menghantam kepalanya ke dinding…” ujar saya mengeluarkan ponsel berisi video rekaman 3GP berupa Illiana sedang berdiri di depan pintu.


Ibrom akhirnya pun mulai berbicara. “Sisa serpihan patung yang muncul semalam juga sudah saya simpan. Kamu tahu saya adalah paranormal juga. Saya bisa dengan mudah menelesuri siapa yang membuat ini. Sudahlah Illiana, kamu mengaku saja.”


Illiana langsung lunglai. Dia menerima kekalahannya.


Ah, ternyata Ibrom memang bermanfaat di kasus ini. Memang tidak salah membawa serta dia untuk kasus ini. Saya melanjutkan, “Jujur. Kami tidak bisa menangkap kamu. Karena bukti seperti itu tidak kuat, dan tidak ada pasal yang bisa dipergunakan untuk menuntutmu. Jadi lebih baik mengaku saja”


 


Illiana hanya menangis. Kemudian dia mulai cerita bahwa Elsa dan Sriyani, dua orang ini pernah satu kelas dengannya. Dia sebetulnya tidak terlalu dekat dengan mereka berdua. Soalnya Sriyani dan Elsa dulunya merupakan pembuli. Banyak yang menjadi korban, dan Illiana adalah salah satunya. Setiap kali diganggu, Illiana menahannya dan tidak pernah melaporkan ke guru ataupun orangtua, karena takut membuat orangtuanya khawatir.


Pernah sekali dia ditampar dan dilukai. Ibunya belakangan melihat luka tersebut dan bertanya siapa yang melakukannya. Illiana tidak mau mengakui dan bilang dia terjatuh. Tetapi Ibunya akhirnya mencari tahu sendiri, yang akhirnya mengetahui kalau Sriyani sering mengganggu anaknya. Ibunya memutuskan konfrontasi langsung  ke Sriyani. Saat itu sedang di sekolah. Elsa dan Sriyani sedang turun tangga hingga tiba-tiba dicegat ibunya Illiana untuk meminta kejelasan. Belum sempat dia buka mulut, karena takut, Sriyani dan Elsa berlari, tetapi tidak sengaja menyenggol mama Illiana. Akhirnya mama jatuh dan karena kepalanya menghantam keras ke lantai, nyawanya tidak tertolong.


Kedua siswi itu begitu ketakutannya dan tidak masuk sekolah dua minggu. Illiana pun berhenti sekolah di sana, dan pindah. Akhirnya Illiana merencanakannya untuk membalaskan dendamnya semenjak itu. Dia dari dulu memang sudah memiliki kelebihan, tetapi belakangan demi dendamnya dia justru menggunakan kelebihannya itu untuk memperdalam ilmu hitam. Yang bisa dia manfaatkan untuk melaksanakan pembunuhan tanpa jejak dan bukti. Tidak ada yang bisa menghentikannya.


Dia kembali mendekati dua orang mantan teman sekelasnya. Dia menjalin hubungan baik dengan mereka. Mereka yang masih tidak tahu perempuan yang mereka bunuh adalah ibunya Illiana, menerima Illiana. Meminta maaf jika dulu sering mengganggunya. Mereka menyesal karena kenakalan mereka banyak mengganggu yang lain. Tetapi dendam Illiana atas kematian ibunya tidak pupus. Semua pertemanan itu tujuannya hanya untuk menciptakan kematian untuk keduanya…


Perempuan yang di tengah foto itu, sengaja dia membuat penampakan. Selain untuk menakut-nakuti mereka, juga untuk membuat mereka sadar, apa yang telah mereka lakukan beberapa tahun silam. Karena Illiana membuat patung hantu itu semirip mungkin dengan wajah ibunya…


 


Saya menggeleng-geleng kepalanya. Dendam hanya akan membuat orang terjerumus lebih dalam. Membuatnya hidup sengsara. Sekarang, karena semuanya sudah terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan lagi.


 


Ibrom dengan kemampuannya akan menghilangkan ilmu hitam yang dimiliki Illiana, dan menggunakan mantra untuk menghilangkan ingatan Illiana tentang semua ini. Sebagai bentuk hukuman juga sebagai bentuk dia supaya menjadi orang lebih baik lagi. Dia besok akan terbangun sebagai salah satu korban yang melihat penampakan. Tetapi penampakan itu hanya karena faktor dia stres. Setelah beberapa hari dia akan normal lagi.


 


Epilog


“Jadinya bagaimana?” tanya Ibrom


“Apanya?”


“Kasus kamu itu. Apa yang kamu laporkan ke kepolisian?”


“Saya rasa hanya bisa melaporkan itu bukan tindak pidana. Murni hanya kecelakaan. Sriyani meninggal karena serangan jantung. Elsa meninggal karena mentalnya memang sudah bermasalah. Saya rasa seperti begitu” ujar saya cuek.


“Baiklah. Kamu utang saya traktir kalau begitu.”


“Lho? Bukannya kemarin itu sudah?”


“Owh, yang buat menerjemah kertas itu iya. Tetapi saya sudah ikut kamu menemani Illiana, mendaki gunung cari petunjuk, dan sampai mengurus Illiana. Menurut kamu, apa itu gak perlu dibayar?”


Dasar. Saya menepuk pundaknya keras-keras. Saya sebetulnya curiga karena sifatnya yang begitu makanya sampai hari ini belum punya pacar. (Kalaupun ada pacar saya curiga itu ilmu pelet). Dan kami berdua pun berjalan keluar dari rumah sakit.


TAMAT