Akhirnya Elliot kembali update lagi. Terima kasih Tri sudah update ke kami. Dalam postingan ini, Elliot membeberkan video terakhir yang sempat dia singgung sebelumnya. Bagi yang belum membacanya bisa baca di Saluran Misterius bagian pertama.



Saya sebetulnya ingin update lagi. Sungguh, saya ingin update. Hanya saja situasi belakangan membuat saya betul-betul eneg dengan masalah Caledon Local 21 ini. Semenjak saya update di sini, akun email saya dibombardir dengan surat-surat soal cerita saya. Saya bahkansempat dihubungi salah satu pihak majalah untuk cerita ini.


Okay, ya sudahlah, saya sekarang akan update kembali untuk kabari kalian apa yang sudah terjadi selama satu tahun ini. Video yang paling terakhir, yakni video keempat, saya sudah menontonnya.


Dan saya sangat-sangat menyesal.


 


Video itu membuat saya trauma berat sehingga sementara aktivitas pencarian ini terhenti.


Okay, saya akan ceritakan kilas baliknya. Setelah beberapa minggu tidak kontak-kontak, saya kembali mencari kenalan ayah untuk menonton video keempat yang pernah dia singgung sebelumnya. Saya tidak tahu mengapa. Saya pikir mungkin dengan menonton video itu, saya akan mendapat sedikit pencerahan atau petunjuk. Teman ayah jelas-jelas tidak setuju dengan ide saya itu. Dia enggan menunjukkannya ke saya. Namun saya keukeuh.


Akhirnya dia sarankan, dia hanya akan menunjukkan video itu, kalau saya sudah berumur 20 tahun. Karena saya tidak bisa berdebat, dan dipikir-pikir toh tidak lama lagi saya akan menginjak kepala dua, jadi saya akhirnya setuju-setuju saja.


Pas bulan Juni tahun kemarin saya akhirnya 20 tahun. Saya kembali menghubungi dia.


Teman ayah saya mengaku dia sebetulnya mengharapkan saya akan lupa. Tetapi karena saya tetap ngotot, akhirnya dia pun mengajak saya ke kantor polisi untuk menontonnya. Sampai di ruangan situ, dia kembali bilang “Kamu sebetulnya tidak perlu menonton ini.” Tetapi saya terus meyakinkan dia, bahwa saya ingin menontonnya. Saya yakin saya sudah menonton film slasher seperti Saw, ataupun pembantaian hewan. Harusnya saya mampu menonton apapun yang ada di hadapan saya. Iya. Betapa naifnya saya waktu itu…


Ketika kami mengambil barang bukti berupa rekaman video keempat, petugas polisi yang bertugas di ruang bukti geleng-geleng kepala. “Untuk apa?” tanyanya.


Sambil menunjukkan kaset rekaman, teman ayah menjelaskan, inilah rekaman terakhir Gudang Tuan Beruang. Saya yakin, apa yang akan saya tonton adalah nasib anak-anak tersebut.


Rekaman itu dimulai dengan tampilan hutan. Sama seperti episode-episode sebelumnya. Suasananya terjadi di malam hari. Dan sepertinya video ini tidak ada suaranya. Karena walau saya bisa melihat pohon-pohon berayun, tetapi saya tidak bisa mendengar suara apa-apa.


Lalu perlahan-lahan cahaya redup muncul di sudut kanan layar. Sedikit demi sedikit kamera mulai mengarah ke sumber cahaya. Ternyata itu adalah sebuah lubang, yang didalamnya dinyalakan api. Saya hanya bisa melihat ujung lidah api dengan asap mengepul.


Teman ayah menekan Pause pada video. “Yakin ingin lanjut tonton?”


Perasaan saya mulai tidak enak. Tapi saya yakin. Walau dalam hati kecil mulai berontak.


Video lanjut. Sang kameramen berjalan mendekati lubang. Dan memang benar, api berkobar-kobar di dalam lubangnya. Lubang ini adalah lubang yang sama dengan video sebelumnya. Hanya saja kali ini sudah ditempati. Kobaran api sangat besar, tetapi saya masih bisa melihatnya….


Tangan dan kaki. Ada yang sudah tidak bergerak. Tetapi ada yang menggeliat, dan lainnya menggelepar… Saya tahu apa yang terpampang di dalam tivi.


Ini bukan film horor. Ini adalah kenyataan. Anak kecil dibakar hidup-hidup. Mereka dibunuh dengan cara mengenaskan! Sumpah, saya tidak akan mungkin bisa melupakan adegan itu.


Tiba-tiba video beralih ke subuh. Sekarang posisi kamera jauh dari lubang. Api sudah padam. Hanya sisa asap. Kemudian ada sebuah bayangan di depan. Saya langsung tahu apa itu. Kostum Tuan Beruang diletakkan di atas tanah.


Kostumnya kosong, dan ditata dalam bentuk salib. Kameramen melompat melalui kostum, dan memperlakukannya seperti benda arkeologi. Di atas kepala kostum, dibuat sebuah papan yang ditulis dengan cat warna merah, “INRI”. Kameraman kembali berjalan ke sisi ujung kostum, lalu zoom-in ke wajah beruang. Tamat.


Saya tidak bisa berkata-kata. semuanya terlihat seperti mimpi. Saya sudah sering melihat hal-hal mengerikan di Internet, tetapi ini pertama kalinya saya melihat sesuatu yang semengerikan ini. Teman ayah melihat saya lalu bertanya apa saya baik-baik saja.


Saya menjawab ya, dengan bergetar. Sepertinya dia tidak yakin. Saya meyakinkan dia bahwa video ini memberi kejelasan untuk seluruh insiden ini.


Beberapa minggu selanjutnya saya sering mengalami mimpi buruk. Saya akhirnya menyerah. Saya tidak peduli lagi. Saya telah menonton seorang manusia gila membakar sekumpulan anak-anak secara hidup-hidup, dengan membuat acara anak-anak palsu. Saya hampir saja menjadi salah satu dari mereka. Untungnya saya masih berada di sini. Saya merasa bersyukur, tapi di sisi lain, saya juga merasa bersalah.


Apakah ini murni keberuntungan? Semenjak kejadian itu saya berhenti total. Baru 10 bulan berlalu, saya, seperti yang kalian lihat, kembali posting di sini.


Email saya penuh dengan pesan, ada yang ingin tahu lebih detail, ada yang ingin meminta rekamannya, ada yang email mengaku dia sebagai Tuan Beruang.


Pertama, saya tidak bisa upload video rekaman, karena itu milik kepolisian. Dan kalaupun saya dapat izin, saya tidak tahu bagaimana caranya menggunakan kaset VHS dipindahkan ke komputer.


Untuk orang yang mengaku-ngaku sebagai Tuan Beruang, kamu tidak bisa mengelabui saya. Ketika ada lusinan orang mengaku dia sebagai Tuan Beruang untuk membohongi satu orang, jelas tidak berguna.


Saya bahkan ada melihat orang membuat channel Youtube bernama Caledon Local 21. Tetapi juga tidak benar.


Dan yang lebih menyebalkan adalah ada orang yang tidak bertanggung jawab nge-hack akun saya dan post puisi tentang saya di blog ini. Saya akan biarkan dia disitu.


Admin bilang postingan itu dibuat pas saat hari Halloween (30 Oktober). Saya sekarang sudah tidak apa-apa. Saya berencana akan follow up teman ayah lagi untuk mendapatkan bukti di kantor polisi yang lain. Saya akan update lagi, bagi yang masih berminat membacanya.



 


Satu hal yang menarik dari ceritanya adalah, postingan terakhir sebelumnya yang berjudul INRI ini, ternyata di-hack orang lain. Kalau begitu, mengapa hacker itu bisa tahu perihal INRI? Sedangkan Elliot sendiri saja baru tahu belakangan setelah menonton film itu. Mungkinkah itu Tuan Beruang yang sesungguhnya yang meninggalkan pesan?