Perempuan itu duduk termenung sendirian di depan televisi. Dia sama sekali tidak menggubris acara di televisi. Dia tenggelam dalam pikirannya. Tiba-tiba suara telepon berdering.



Dia terhenyak, kemudian mengangkat telepon sambil berpikir siapa yang mungkin telepon di malam-malam ini.


Ternyata ayahnya yang telepon.


“Pa, malam-malam ini belum tidur?”


“Ah ya belum. Tidak ganggu kalian kan? Boleh panggil Daniel? Saya mau berbicara dengan dia.”


“Di.. Dia ada urusan kantor, jadi keluar kota,” jawabnya cepat.


“Ooh..”


 


Ayahnya memiliki penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. Dia masih belum berani menceritakan kalau suaminya mengalami kecelakaan mobil kemarin. Kecelakaannya sangat fatal, sehingga suaminya tidak terselamatkan.


Kalau bisa disembunyikan dari ayahnya, dia akan sembunyikan terus. Bisa disembunyikan sampai kapan dia sendiri tidak tahu. Karena dia sendiri juga tidak tahu harus melakukan apa. Pikirannya kalut. Dia sendiri masih belum bisa menerima kenyataan, suaminya telah tiada untuk selama-lamanya.


Ayahnya memberi beberapa nasehat untuknya. Tetapi tidak ada satu katapun yang masuk. Dia hanya mengiyakan saja.


“Si Andi masih belum tidur kah? Sudah jam segini masih dengar dia teriak-teriak ‘kakek’ di situ…”


“Oh ya, saya akan segera suruh dia tidur,” jawab dia sekenanya.


Setelah berbicara sesaat dia meletakkan gagang telepon.


Kembali duduk di sofa dan menatap televisi sambil termenung. Sampai tiba-tiba dia teringat satu hal.


Anaknya juga sudah meninggal di kecelakaan kemarin. Suami dan anak mereka saat itu naik mobil berdua. Kata polisi mobil suaminya dihantam truk dari depan. Suami dan anak, dua-duanya duduk di depan saat itu. Jadi langsung meninggal di tempat kejadian.


Jadi siapa tadi yang didengar oleh ayahnya?