Dari kecil saya selalu mempunyai cita – cita untuk menjadi orang yang sangat dihormati, karena lahir di keluarga yang miskin dan tidak ingin di pandang rendah, saya memakai segala cara untuk menjadi sukses. Perkenalkan namaku Sony dan setelah bersusah payah saya menyelesaikan kuliah di ibukota, saya memulai usaha penjualan bahan bangunan dan dibantu oleh istriku yang tersayang, Mira.



Kami dikarunia 3 orang anak, Leslie, Helen, Andy. Semuanya berjalan baik – baik, hingga akhirnya ada sebuah ketidakpuasaan di dalam diriku. Meskipun sudah tergolong mampu, saya merasa saya ingin dihormati lagi, dengan gelar di bidang hukum saya balik ke kampung halamanku untuk menjadi calon legislatif. Dua kali ikut hasilnya tidak berhasil, saya sudah melakukan segala cara dari mentraktir makan calon pemilih hingga membangun fasilitas untuk warga, nihil besar.


Akhirnya saya membaca sebuah majalah mistis, di dalam artikel tersebut mengajari cara untuk dikabulkan sebuah permintaan, seperti yang diketahui oleh orang umum, bila meminta permintaan dan dikabulkan oleh makhluk mistis, anak kita akan menjadi tumbalnya.


Tetapi hal tersebut tidak menjadi hambatanku untuk sukses, dua kali ikut calon legislatif dan gagal sudah mendapat banyak ejekan dan cemohan. Saya harus sukses, aku berteriak di dalam diriku.


Di dalam sebuah hutan di kampungku terdapat sebuah gua yang amat keramat, saya pergi sendirian dengan perlengkapan pramukaku. Sudah puluhan kali saya merasa merinding di dalam malam yang sunyi tersebut. Saya yakin setiap kali badanku merinding, itulah saat mahkluk mistis mengikutiku.


Tiba-tiba penglihatanku menjadi berkunang – kunang dan saya tertidur di situ pula. Beberapa menit kemudian mataku terbuka tetapi badanku tidak bisa bergerak, ada seorang nenek tua duduk membelakangiku tanpa memperlihatkan mukanya, tanpa ditanya saya sudah tahu dalam hati bahwa itulah makhluk mistis yang saya cari-cari.


Mistis : ” Cu, ada apa sendirian di hutan, di malam ini?”


Sony : “Nek saya ingin memenangkan pemilu untuk menjadi anggota dewan, bantu aku.”


Mistis : “Mengapa tidak, tetapi saya merasa sangat kesepian, saya ingin ditemanin anak – anak, maukah kamu memberikan saya darah dagingmu, 5 anak untuk 5 tahun kamu menjabat?”


Sony : “Aku mau, aku mau, tidak masalah Nek”


Mistis : “Bila kamu gagal memberikan saya 5 anak, nyawa dirimu dan istrimu juga akan menemaniku juga di hutan yang sunyi ini”


Sony : “IYA IYA IYA IYA”


Akhirnya saya tertidur lagi, entah berapa lama tiba-tiba cahaya matahari mulai menusuk mataku. Saya terbangun. Ternyata saya sudah bisa bergerak dan ini sudah dini pagi hari. Saya sangat mencintai anakku bersama Mira, tidak mungkin saya akan mengorbankan mereka bertiga, saya segera mencari beberapa wanita panggilan.


Saya mengkontrak mereka untuk dihamili diriku, anak yang akan saya korbankan adalah anak yang dibuahi aku dengan wanita panggilan itu, tetapi entah apa dengan masalah diriku, selama 6 bulan dari 3 wanita yang saya setubuhi, tidak ada satupun yang menghasilkan janin, akhirnya pendaftaran pilkada pun dimulai, ingin saya batalkan niat untuk mengikutinya tetapi desakan keluarga, teman – teman membuat saya merasa malu bila tidak ikut dan dibilang takut kalah.


Akhirnya saya nekat mendaftarkan pencalonan saya sebagai wakil rakyat. Tiga wanita panggilan tetap saja tidak menghasilkan apapun untuk saya. Tetapi alangkah bahagianya saya ketika saya mendengar salah satu mereka sudah hamil. Saya kembali ke hutan tersebut dan berdoa kepada nenek mistis dan memberikan nama anak yang akan lahir, karena dia akan menjadi persembahan pertamaku.


“Berhasil, Hore, Hore” teriakku ketika saya berhasil menduduki kursi wakil rakyat, itu sudah menjadi pasti. Saya sangat bahagia, karena tahun ini saya tidak menghabiskan dana besar untuk kampanye tetapi memenangkannya. Empat bulan menjabat, saya mendapat sebuah telepon dari wanita panggilan tersebut, anak kami yang baru berumur 2 bulan mati karena ditimpa bola lampu yang dipasang dikamarnya, saya memberikan sejumlah uang untuknya dan menasehatinya agar segera mengubur bayi kami.


Keesokannya saya mendapat telepon dari adikku yang dari Jakarta, “Bang, Leslie tabrakan setelah nonton film di bioskop semalam.” Adikku dengan panik menjelaskan apa yang terjadi. Benar-benar bagaikan disambar petir pada siang bolong, segera aku dan Mira ke Jakarta.


 


Mayat Leslie benar – benar sangat tragis, badannya penyot, mukanya hancur dan berlumur darah. Saya sangat emosi dan sedih. Sedih karena kehilangan anakku. Emosi karena saya yakin bayi yang meninggal tadi bukanlah anakku. Segera saya balik ke kota aku melanjutkan menjabat sebagai wakil rakyat. Segera juga aku menemui wanita panggilan tersebut. Saya cekik, saya jambak rambutnya. Saya mendengar sebuah tangisan bayi dari kamar, ternyata bayi itu belum meninggal. Aku menghantam perut wanita jahanam itu. Akhirnya dia menceritakan kepadaku apa yang terjadi.


 


Bersambung (Bila pembaca setuju)